Struggle Will Not Over

May 17

Lady “bumbu masak” Gaga ke Indonesia

Salam.

Topik kali ini membahas tentang mbak mbak blonde yang gayanya sangat eksentrik itu. Hampir seluruh stasiun TV, yang hoby debat ngga jelas itu, ngebahas si mbak mbak itu yang nampaknya akan tampil konser karena di cekal oleh ormas-ormas di Indonesia.

Menurut pandangan saya, kedua belah pihak antara sang pro konser Lady Gaga dengan kontra konser Lady Gaga, memiliki hak yang sama. jelaslah yaa…. pernyataan ini pasti sudah diutarakan sama para penduduk Indonesia yang memang sudah sangat jauh lebih terbuka terhadap segala pemberitaan dan pengetahuan baru yang muncul. Kali ini, saya akan netral bahasnya.

Kalau di pandang dari sudut pandang Kontra konser Lady Gaga :

Para Ormas-ormas dan lembaga-lembaga tertentu yang mengharamkan konser Lady Gaga- memiliki pedoman yang sangat nyata mengenai sosok Lady Gaga yang eksentrik itu. Bagi umat muslim yang beriman, saya tekankan disini kata-kata “yang beriman”, pasti akan sangat paham kenapa akhirnya banyak yang menyangkal dan tidak menyetujui konser Lady Gaga diadakan di Indonesia. Bagi kalian yang masih berkutat sama logika, jadi gini.. dalam Al-Qur’an di surat An-Nur ayat 31 itu ada perintah yang tidak ada kata-kata kiasan sama sekali. Perempuan dan laki-laki, harga mati harus menutup dan menjaga auratnya. Aturan Tuhan dari pesanNya di Qur’an itu, harga pas, ga bisa ditawar sedikit pun. Mau adu logika soal penutupan dan penjagaan aurat, sudah terbukti langsung di kehidupan nyata. Nah, si mbak Gaga ini, dia itu pakaiannya very abnormal untuk kita yang biasa-biasa. Bukan hanya itu, kalau Anda pernah lihat video klip nya di youtube.com, dia seolah-olah menggambarkan bahwa tubuh kita itu miliki siapa saja, para penari laki-laki mau pegang-pegang body mulus dia juga ga apa2, asal video klipnya keren dan membuat dia terkenal dan album laris. Jadi, ya tidak bisa dipungkiri hal itu, sangat mungkin didemo tuh.

Kalau di bagian pro konser, mereka membahas tentang Freedom. Menurut pandangan kontra, kata-kata freedom itu suatu bentuk yang mungkin saja, tidak seharusnya diartikan secara harfiah, bahwa bebas benar-benar bebas tanpa menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dan agama. Lirik Lady Gaga yang memang menggambarkan kebebasan banget itu, memang baik untuk dijadikan sebuah kata-kata mutiara. Tapi, tidak lalu Anda-anda itu semua itu mengagumi dia seolah-olah dia lah nabi muu…. Yakinilah nabi menurut ajaran agamamu, pahami lah liriknya sesuai dengan anak-anak sastra membahas berbagai karya-karya seni tulis yang memang bermakna ganda, dan dengarkanlah lagu-lagunya sebagai teman kala tak ada lagu baru yang didengar saja. begitu lho, kalau saya coba memahami teriakan para orang-orang yang mengaku meningkatkan kebenaran dan kebajikan di muka bumi Indonesia ini.

Pandangan dari Pro Konser Lady Gaga :

teringat pernah didebat teman yang nge fans berat sama Lady Gaga di twitter. Lupa tweet pastinya kayak gimana, yang jelas dia coba menjelaskan bahwa Lady Gaga itu sangat ekspresif dan dia itu sangat kreatif. kayaknya (saya lupa) dia pernah bilang, kalau sangat jarang orang se keren Lady Gaga yang berani tampil jauh lebih menarik daripada orang lain. Saya pun di cap bahwa sebenernya saya peduli dengan mbak-yang-namanya-kayak-bumbu-masak Gaga, karena saya sudah sering (padahal baru dua kali) nge-tweet tentang Gaga. itupun karena saya penasaran abis sama video klipnya, dandanan sih lebih tepatnya.

Lalu terwarnai lagi pengetahuan saya, ketika berkali-kali dihadirkan orang-orang yang nge fans berat dengan Lady Gaga di acara TV. mereka bicara tentang Freedom. Memang kita itu sejatinya butuh kebebasan. di Indonesia bahkan sudah terlalu bebas yaa… mau cekal siapapun yang kita mau bisa, kita mau menjegal orang yang mencekal kita juga udah bisa banget. banyak banget lirik-lirik lagu Lady Gaga yang menurut saya, memang cukup menggugah pemikiran kita. Kayak lagu Born This Way, whoooo…. itu keren banget untuk membangkitkan diri kita menjadi orang yang percaya diri. Saya, walaupun ngga follow twitternya, tapi saya ga ketinggalan juga ngepoin timeline nya. I knew that she was born to be a superstar, with a super-words. It’s predictable. Secara pribadi, mungkin dia bisa njeglek kalau dipertimbangkan sama Justin Bieber, yang ngomongnya gak dijaga sama sekali sampe dapet kritik pedas dari pers di London. Saya secara pribadi suka kok dengan keunikan dan cara berpikirnya dia lewat lagu-lagunya. She makes me understand why people must creative and do the hard work. Those are for your own good and successful life.

Conclusion :

Apapun ituu… Menurut saya, kita saling menghargai saja lah. Kita semua punya hak untuk hidup, berpendapat, bertingkah laku, selama tidak melanggar etika, nilai, dan norma sosial yang sudah mendarah daging di kehidupan kita. Untuk yang pro, ya biarin aja lah itu yang kontra, kasih seneng dikit aja napa, mumpung didunia dia masih bisa hepi-hepi. Urusan itu adalah hal haram. Ngga usah lah diumumkan juga. Lagi pula, mereka para penggemar artis-artis terkenal itu sudah seharusnya cerdas dalam berpikir dan bertindak. Mereka yang heboh desak-desakan nonton Lady Gaga itu juga tau kali, kalo nontonin acara begituan ngga ada artinya kalo diitung pas di sidang diakhirat juga, ketimbang menyumbangkan uang 750ribu sampe 2juta rupiah untuk para orang-orang miskin di sekitarnya.

Ya inilah dunia. Ada orang yang capek kerja sampe sakit tiap malampun nggak dirasain hanya untuk biayain dia dan keluarganya hidup dan untuk anaknya sekolah tinggi, ada juga tetangganya yang berkecukupan, kerjaannya nontonin konser-konser artis luar negeri dan clubbing tanpa mikir uangnya bisa membantu tetangganya yang sekarat cari duit. Indonesia, bukan lagi cerminan neoliberalisme semata, tapi udah bener-bener kapitalis. yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah banyak.

Intinya…. untuk yang kontra, tetap lanjutkan perjuangan dalam mencekal. Bagi yang pro, tetap berjuang juga ya, biar lo ngga kena gebug pas konser Lady Gaga jadi tampil. hehe :D

-peace-

Feb 23

just an ordinary photo(grapher) shoper: Studi Deskriptif Mengenai Persepsi Tentang Valentine Pada Mahasiswa Tingkat Akhir -

shashinisa:

Ajegileee dah judulnya, maklum loh ini masuk fase dimana semua akan sibuk dengan pemikirannya tentang skripsi. Oh iya, waktu valentine kemarin, kami mahasiswi Fakultas Psikologi Unpad 2008 yang sedang memasuki tahun akhir kami, Nissa, Aby, Ayud, Pipin, dan Tika meramaikan twitter…

Feb 10

“hidup itu kayak Running Man, kadang kita udah mati-matian untuk mencapai misi, tapi nggak menang, malah kadang dapet punishment. tapi dinikmatin aja, enjoy, ketawa-ketawa. inilah hidup, yang penting dinikmatin, bukan masalah menang kalahnya.” — Maritsa Nurfatwa (10 Februari 2012)

(Source: shofaholic)

Dec 21

Bermula dari Status BBM

Dua hari sebelum adik angkatan saya dikampus meninggal, saya sempat menulis di status BBM saya : Berbahagialah mereka yang mati muda!

Saya menuliskan seperti itu, tepat setelah saya mencari tahu tentang tulisan-tulisan Soe Hok Gie. Saya memang sangat tertarik dengan kata-kata itu. Kalimat panjangnya diambil dari kata-kata Schopenhauer, dengan tulisan : Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial, adalah mati tua. Berbahagialah mereka yang mati muda karena tidak mendapat kesialan dan penyesalan di hari tua.

Ketika itu saya berpikir, apakah memang menyenangkan kalau kita mati muda yang baru memiliki sedikit dosa? Tapi, kemudian saya tersadar bahwa mati pun menjadi bermasalah tanpa memandang usia, ketika yang kita lakukan selama hidup, bukan hal terbaik yang bisa kita pertanggungjawabkan nantinya dihadapan Allah. Saya sejenak merasa agak bersalah dengan status BBM saya yang begitu, tapi toh tetap saya tulis dengan perasaan bangga dan tetap memikirkan tiap melihat BBM saya.

Berbeda cerita saat dua hari kemudian saya mendapat pesan singkat di hape yang berbunyi kabar duka. Kabar duka yang berasal dari teman-teman kampus saya dan adik angkatan saya sendiri yang pergi. Sontak saya langsung mengganti status BBM saya menjadi : RIP Uli 09 - Kematian, mengingatkanku banyak hal.

Hampir lupa, sebelumnya pernah menulis sesuatu yang berhubungan dengan itu. Saya merasa kurang pantas kemudian menuliskan hal itu lagi. Saya terus teringat adik saya itu sekelebat ketika masih hidup dan kini sudah pergi. Saya lantas tidak membiarkan bayangannya mengitari isi kepala saya dan khayalan saya. Hingga seorang teman bercerita tentang raut muka almarhum adik saya itu sebelum dimakamkan. Teman saya bercerita, “Aku sedih. Aku nggak ngelihat dia, seperti waktu mamaku meninggal. Aku sedih, karena aku ngelihatnya, dia sedih dia meninggal.

Cukup!

Aku memang tidak terlalu dekat dengan Uli, adik angkatanku itu. Tapi, senyum riangnya dikala hidup menamparku sangat keras ketika aku lihat ada darah mengalir dari kepalanya. Tragis. Tuhan sangat bisa menidurkannya sekaligus menamparku sekeras itu.

Dari situ, saya mulai merenung. Mulai menyendiri lagi memikirkan banyak hal. Padahal, ketika kita hidup, akan lebih bermakna jika kita hanya sekadar merasakan tanpa memikirkan. Hari kemarin, sehari penuh, saya mendapat suatu pelajaran menyenangkan bagaimana cara memaknai hidup agar lebih berwarna. Memang benar, Kematian membuatku mengingat banyak hal. Mengingatkan tentang hidupku, hidup orang tua ku, hidup keluargaku, hidup teman-temanku, hingga hidup duniaku. Warna-warna yang kupelajari sekarang, sedang kukumpulkan untuk kemudian mewarnai kanvasku.

Tak perlu takut untuk hidup wahai kawan. tapi, Jangan berani pula pada kematian. Kita tidak boleh sombong ataupun berlebihan. Biasa saja. Tapi, kita harus berlari untuk meraih impian kita.. Harus berlari..!! :)

Selamat temanku yang pandai tersenyum, hadirmu didunia dirindukan… Semoga hadirmu disana, disambut dengan rasa rindu pula..

Dec 18

(via onyeandina)

Dec 14

Ini semua tentang Sondang

Salam.

Ini pendapat saya tentang Sondang yang sudah meninggal ditelan api karena kekonyolannya sendiri. Anda yang membaca boleh tidak suka, memaki balik anggapan saya, dan menghantui saya selama Anda masih diberikan hidup oleh Tuhan Anda.

Bukan maksud saya meremehkan kawan mahasiswa saya nun jauh disana itu. Tidak se-eksplisit itu saya melihat permasalahan. Ketika sedang berjuang melawan rasa sakit pada tubuh saya, teman saya menggugah saya untuk berpikir tentang ini semua.

Teman : Sondang, untuk apa sih dia bakar diri?

Saya : Katanya sih, untuk membuat pemerintah biar lebih perhatian pada rakyat.

Teman : Untuk membuat rakyat biar bisa menganggap bahwa apa yang dilakukannya itu benar?

Saya : hah? Tau ah. Yang jelas, tuh orang aneh. macam ngga ada jalan lain aja untuk berjuang.

Teman : Abnormal niihh… Teoritisnya apa ya?

Teringat akan mata kuliah Psikologi Abnormal, seolah-olah saya membuka diktat kuliah psikologi abnormal.

Saya : Yah, seperti itulah. Itu termasuk apa ya? Menurutku Schizophren. Tapi, bentuknya masih waham. waham apa ya?

Teman : Lah? Makanya aku tanya.

Berpikir lah saya seketika itu. Psikopat? ah… Mencari-cari teori yang lebih tepat menggambarkan kejadian itu. Mencoba meng-analisis, walau saya paham sekali, saya belum mampu untuk meng-analisis secara tepat. Tapi, ini Indonesia, demokrasi ditegakkan. Saya terus mencari, mencoba, walau salah. Piaget, nggak susah. Erikson, hadeuuhh…

Saya : Kok aku mikirnya jadi ke Kohlberg ya? Moral. Dia ada di tahap ketiga fase kelima. Sebenernya, dia udah bisa memilih mana nilai yang ada dalam dirinya dan nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Teman : (diam)

Saya : mm… apa ya yang tepat? ooohhh…. aku tau! Mungkin, amygdala nya lebih cepat membesar dan meningkat, dibanding cortex nya. Sehingga, dia dikuasai oleh emosi.

Teman : hehe (dia bicara sesuatu, tapi saya lupa apa yang dikatakannya)

Saya : tapi, kalau menurutku ya, mungkin aja dia sendiri tidak menduga bahwa pada akhirnya dia akan mati.

Teman : heh?

Saya : iyaa… mungkin dia dan teman-temannya, yang lagi pada demo kan?

Teman : aksi teatrikal…

Saya : Hah, apalagi aksi teatrikal. aku pikir, mereka semua disana nggak ada yang menduga kalau tuh orang akan berujung pada kematian.

Teman : hmm (diam)

Menurut saya, hasil analisis cetek saya berpandangan bahwa apapun yang terjadi lalu, tidak pernah ada yang menduga hasilnya akan sesadis dan se tragis ini. Mungkin aksi teatrikal yang mereka rencanakan tidak semenakjubkan ini, mungkin Sondang sendiri juga tidak berminat untuk melumuri tubuhnya dengan bensin sebanyak itu. Tapi, semua terjadi. Negara ini negara bebas kan, memaki saja juga boleh di depan umum. Maka, saya sebut Sondang mati konyol (sambil tersenyum).

Saya memang bukan mahasiswa yang demen aksi, demo, atau apalah kalian sebut namanya. Saya mahasiswa rumahan, yang hanya ikutan kegiatan di dalam kampus, menyelinap mencari tau tentang ini dan itu dari gorong-gorong tempat tikus pada berlarian. Dedikasi saya hidup dan menjadi mahasiswa cukup jelas, menjunjung tinggi Agama, rasa bangga Orang tua, dan nama baik almamater. Untuk Bangsa Indonesia, orang lain tidak perlu tahu. 

Prinsip saya, ketika kita berniat baik untuk seseorang, ketika itu pula cara yang baik yang akan kita tampilkan. Sondang, bukan merupakan contoh yang baik untuk ditiru oleh generasi penerus kita, kawan. Kurang tepat agaknya, menempatkan Sondang dengan gelar Sarjana Kehormatan.

Jika begitu adanya, berarti pengertian kehormatan itu menjadi lebih sempit. Hanya orang-orang yang berani mati akibat menyiram bensin dan membakar diri, yang pantas mendapat Gelar Kehormatan. Bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan mahasiswa yang lain?

Bangsa ini belum merdeka wahai saudaraku… Belum… Merdeka itu adalah keadilan yang ditimpakan pada setiap warganya mendapat pengakuan yang sama. Mati bunuh diri, mati karena tua, mati karena tertembak, mati karena keracunan gas, dan mati karena waktu… itu semua memiliki penghormatan dengan cara yang sama, walau prosesnya berbeda.

” Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.”

“Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun”

-Soe Hok Gie-

9gag:

It’s forever

9gag:

It’s forever

(via afridaarn)

Dec 11

[video]

psikopad08:

feruhdey16:

Spesial untuk @psikopad08. Jangan sampe ikutan encok ya liatnya. Haha <3

Terima kasih, Avo :)

itu payung bisa pindah tempat… okeee banget…

psikopad08:

feruhdey16:

Spesial untuk @psikopad08. Jangan sampe ikutan encok ya liatnya. Haha <3

Terima kasih, Avo :)

itu payung bisa pindah tempat… okeee banget…

(Source: afridaarn)

psikopad08:

Mari sukseskan UAS semester 7, @psikopad08! :)

psikopad08:

Mari sukseskan UAS semester 7, @psikopad08! :)

(Source: mirzarfina)