Struggle Will Not Over
 
 
Bukan. Sendiri..!

Salam…

Kulit tangan saya mengering.
Keringnya seperti daun yang sudah berserakan di jalanan.
Jalanannya tidak mulus, tetapi banyak yang lubang.
Lubangnya sudah menjadi besar dan terjal.
Terjal sekali bagaikan seekor semut mendaki bukit.
Bukit yang naik dan turun mengelilingi bumi.
Bumi yang sebentar lagi akan hancur karena kedurhakaan manusia pada pencipta-Nya.

Beberapa hari ini, saya seolah-olah dibukakan pemikirannya oleh Allah melalui berbagai hal. Hal yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena saya sampai lupa, hal apa saja itu. Itu adalah masalah terbesar saya, ketika saya tidak lagi bisa mengingat apa yang seharusnya menjadi pembelajaran saya. Saya menjadi khawatir. Khawatir terhadap kehidupan saya sekarang. Sekarang seolah-olah cerminan masa depan. Masa depan yang sesungguhnya rawan untuk kita lalui.

Keberadaan saya kembali saya pertanyakan, setelah sekian lama sempat terlupakan. Terlupakan karena terlalu banyak yang saya kerjakan. Bukan. Bukan banyak yang saya kerjakan. Tapi, terlalu banyak waktu yang saya habiskan. Hanya waktu yang saya habiskan, bukan pekerjaan.

Tiba-tiba saya rindu saat saya sekolah dulu. Sekolah yang membuat saya berpikir seperti sekarang. Sekolah yang membesarkan saya menjadi manusia yang percaya bahwa hidup sendiri terkadang menjadi jauh lebih baik. Lebih baik dibanding saat bersama dengan orang-orang yang bahkan tidak pernah sadar akan ketidakhadiran saya.

Saya memilih kepada orang yang peduli akan ketidakhadiran saya. Saya merasa, keberadaan kita akan lebih bermakna saat orang lain rindu akan kehadiran kita. Bukan rindu saat kita ada disana. Saya memang tidak pernah menempatkan diri saya menjadi orang yang special bagi orang lain. Tidak pernah. Tapi, saya tidak pernah tau kalau saya dianggap special bagi orang lain.

Saya pernah menulis pada tumblr’s posting sebelumnya, saya selalu menyadari bahwa kita bertemu bahkan hanya untuk berpisah, cepat atau lambat. Ya, cepat atau lambat. Menurut saya, lebih menyenangkan kalau kita semua bisa berpisah dengan cepat. Tak perlu ada harapan. Tak perlu ada rindu. Tak perlu ada janji. Bumi berputar. Hari terus berganti. Untuk apa mengenal segalanya lebih dalam, kalau pada akhirnya kita akan berpisah.

Saya tau, ada beberapa hal yang tidak akan berpisah dalam hidup (saya). Allah. Orang tua. Amalan. Sisanya, puff… hilang bagai pasir yang tenggelam dalam angin sore. Kita, semua akan tidak lagi bersama. Akan terpisah. Dipisah tepatnya.

Pertanyaannya adalah… untuk apa kita terlalu bergantung pada segala hal di dunia ini, kalau hanya takut dan cemas untuk sendiri? Apakah kita berteman/berkeluarga hanya agar tidak sendiri?

Teman, sebaiknya kita harus mulai untuk menyadari bahwa sendiri bukan jalan terburuk dan berteman bukan jalan terbaik. Siapkan diri dalam menghadapi pertempuran, itu lah yang harus kita lakukan. Tidak semua mau menjadi kawan, tidak semua berani untuk menjadi lawan. Ketika kita cemas untuk tidak melawan, saat itulah kita cemas untuk tidak menjadi teman. Ketika kita terlalu berani untuk melawan, saat itulah kita terlalu naif untuk hidup sendiri.

Bukan. Ini bukan tentang kehidupanmu. Tapi, kehidupanku. Ini tentang bagaimana aku bertahan selama ini. Bertahan menjadi buas bila semua berpikir santai dan lembek. Bertahan menjadi jinak bila semua mengeras dan ingin didengar. Bertahan sendiri. Sendiri berbeda. Sendiri saja. Tak perlu semua orang tau kebodohan mu, walau tampak jelas. Tak perlu semua orang tau kejeniusan mu, walau begitu terlihat. Sederhana lah. Maka Tuhan akan berada disampingmu. Diam lah. Maka setan takkan sanggup mengompori.

Make it simple and be brave like a king!


MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com