Salam.
Lucu ya.. judulnya meniti kerikil. Bagi saya, ini nampak bagai kiasan yang membuat saya belajar lebih banyak. Tidak mudah meniti jalan. Tidak mudah juga meniti kerikil. Kerikil itu kecil, susah dilalui, tapi menantang.
Keikutsertaan saya sebagai seorang project supervisor dalam acara TPD 2011, membuat saya belajar banyak bahwa saya sedang belajar berjalan meniti kerikil. Pekerjaan yang sangat tidak mudah. Hal yang ditapaki terlalu kecil. Tapi, hal yang didatangi terlalu jauh.
Ketika diamanahkan untuk mengurusi TPD 2011, penuh penolakan sangat dalam diri saya. Tapi, Allah menggugurkan penolakan itu dengan keberanian yang saya miliki. Hidup bermodalkan nekat, menjadi pedang saya selama bertempur dalam kehidupan. Peperangan agama, saya pernah dan saya nekat tidak peduli terhadap mereka yang mencaci. Peperangan suku, saya pernah dan saya nekat untuk membuktikan bahwa saya menghargai penuh keberagaman bangsa. Peperangan tujuan hidup, saya pernah dan saya terseok-seok berjalan hingga menuju akhir. Peperangan di sekolah, kampus, dan rumah, bukan lagi menjadi masalah besar bagi saya. Semakin saya ditekan, semakin saya mengangkat. Semakin saya tertekan, semakin saya merasa kuat. Selalu begitu.
Orang tua saya mengajarkan saya untuk menjadi manusia yang bisa segala hal, tidak takut apapun kecuali pada Allah dan orang tua, serta menjadi manusia yang selalu berada dalam keadaan tertekan.
Well, bukan hal mudah merumuskan suatu pelatihan untuk 150-an orang. Mengurus pelatihan untuk 20 orang saja saya sudah mau pingsan tiap liat daftar hadir, apalagi mengurus sebanyak itu. Ketika dihadapkan suatu masalah, saya pernah menyalahkan diri saya karena salah memilih panitia. Tapi, kemudian disadarkan dengan semangat panitia lain yang membuat saya membuka mata untuk melupakan pikiran negatif.
Kerikilnya kecil, tapi anginnya terlalu kencang. Kencang sekali. Hingga bila kita tidak tegar dan teguh pendirian, akan mudah terjatuh dan terperosok dalam jurang. Angin ini mengingatkan saya pada TPD 2008 yang menyadarkan saya bahwa tidak hanya bunga yang bermekaran di angkatan saya, tapi juga sungai mengalir tak berhenti. Ketika saya jatuh tersungkur dan digotong bersama dengan kakak-kakak saya sekarang, teman saya datang dan menunggu. Kami berkumpul dalam suatu ruangan dan saling menyemangati. Saya disambut dan tidak sedikit yang memeluk. Saya sedih tapi saya senang, teman-teman saya sadar akan keberadaan saya saat itu.
Angin kencang ini membuat saya bergegas berjalan dengan tidak melihat kebawah, kesamping, kebelakang, tapi ke depan dan berlari. Yang sudah terjadi, ya sudah. Sekarang, pikirkan solusi, kerjakan apa yang bisa dikerjakan detik ini. Berdoa itu utama. Apapun hasilnya, Allah yang menentukan.
Ketika saya berjalan meniti kerikil, saya yakin bahwa semua ini adalah campur tangan Allah. Sudah tertulis di Lauhul Mahfuz. Tak perlu menyesal. Tak perlu mengeluh. Saat yang lain tumbang, kita yang harus membantunya berdiri walau dengan tubuh terseok. Saat yang lain semangat, kita harus berani menggenggam dan mengajaknya melompat. Saat yang lain merengut, kita harus senantiasa tersenyum walau dengan hati jenuh dan pikiran penuh noda. Saat yang lain tersenyum, kita harus tertawa lepas agar semua hal negatif hilang dari dalam tubuh kita.
Meniti kerikil tidak pernah mudah. Tapi selalu terlewati, jika Allah menghendaki. Persoalannya, ketika Allah sudah menghendaki, kita yang tak pernah menyadari… Problem manusia masa kini…

