Salam.
Ini pendapat saya tentang Sondang yang sudah meninggal ditelan api karena kekonyolannya sendiri. Anda yang membaca boleh tidak suka, memaki balik anggapan saya, dan menghantui saya selama Anda masih diberikan hidup oleh Tuhan Anda.
Bukan maksud saya meremehkan kawan mahasiswa saya nun jauh disana itu. Tidak se-eksplisit itu saya melihat permasalahan. Ketika sedang berjuang melawan rasa sakit pada tubuh saya, teman saya menggugah saya untuk berpikir tentang ini semua.
Teman : Sondang, untuk apa sih dia bakar diri?
Saya : Katanya sih, untuk membuat pemerintah biar lebih perhatian pada rakyat.
Teman : Untuk membuat rakyat biar bisa menganggap bahwa apa yang dilakukannya itu benar?
Saya : hah? Tau ah. Yang jelas, tuh orang aneh. macam ngga ada jalan lain aja untuk berjuang.
Teman : Abnormal niihh… Teoritisnya apa ya?
Teringat akan mata kuliah Psikologi Abnormal, seolah-olah saya membuka diktat kuliah psikologi abnormal.
Saya : Yah, seperti itulah. Itu termasuk apa ya? Menurutku Schizophren. Tapi, bentuknya masih waham. waham apa ya?
Teman : Lah? Makanya aku tanya.
Berpikir lah saya seketika itu. Psikopat? ah… Mencari-cari teori yang lebih tepat menggambarkan kejadian itu. Mencoba meng-analisis, walau saya paham sekali, saya belum mampu untuk meng-analisis secara tepat. Tapi, ini Indonesia, demokrasi ditegakkan. Saya terus mencari, mencoba, walau salah. Piaget, nggak susah. Erikson, hadeuuhh…
Saya : Kok aku mikirnya jadi ke Kohlberg ya? Moral. Dia ada di tahap ketiga fase kelima. Sebenernya, dia udah bisa memilih mana nilai yang ada dalam dirinya dan nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Teman : (diam)
Saya : mm… apa ya yang tepat? ooohhh…. aku tau! Mungkin, amygdala nya lebih cepat membesar dan meningkat, dibanding cortex nya. Sehingga, dia dikuasai oleh emosi.
Teman : hehe (dia bicara sesuatu, tapi saya lupa apa yang dikatakannya)
Saya : tapi, kalau menurutku ya, mungkin aja dia sendiri tidak menduga bahwa pada akhirnya dia akan mati.
Teman : heh?
Saya : iyaa… mungkin dia dan teman-temannya, yang lagi pada demo kan?
Teman : aksi teatrikal…
Saya : Hah, apalagi aksi teatrikal. aku pikir, mereka semua disana nggak ada yang menduga kalau tuh orang akan berujung pada kematian.
Teman : hmm (diam)
Menurut saya, hasil analisis cetek saya berpandangan bahwa apapun yang terjadi lalu, tidak pernah ada yang menduga hasilnya akan sesadis dan se tragis ini. Mungkin aksi teatrikal yang mereka rencanakan tidak semenakjubkan ini, mungkin Sondang sendiri juga tidak berminat untuk melumuri tubuhnya dengan bensin sebanyak itu. Tapi, semua terjadi. Negara ini negara bebas kan, memaki saja juga boleh di depan umum. Maka, saya sebut Sondang mati konyol (sambil tersenyum).
Saya memang bukan mahasiswa yang demen aksi, demo, atau apalah kalian sebut namanya. Saya mahasiswa rumahan, yang hanya ikutan kegiatan di dalam kampus, menyelinap mencari tau tentang ini dan itu dari gorong-gorong tempat tikus pada berlarian. Dedikasi saya hidup dan menjadi mahasiswa cukup jelas, menjunjung tinggi Agama, rasa bangga Orang tua, dan nama baik almamater. Untuk Bangsa Indonesia, orang lain tidak perlu tahu.
Prinsip saya, ketika kita berniat baik untuk seseorang, ketika itu pula cara yang baik yang akan kita tampilkan. Sondang, bukan merupakan contoh yang baik untuk ditiru oleh generasi penerus kita, kawan. Kurang tepat agaknya, menempatkan Sondang dengan gelar Sarjana Kehormatan.
Jika begitu adanya, berarti pengertian kehormatan itu menjadi lebih sempit. Hanya orang-orang yang berani mati akibat menyiram bensin dan membakar diri, yang pantas mendapat Gelar Kehormatan. Bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan mahasiswa yang lain?
Bangsa ini belum merdeka wahai saudaraku… Belum… Merdeka itu adalah keadilan yang ditimpakan pada setiap warganya mendapat pengakuan yang sama. Mati bunuh diri, mati karena tua, mati karena tertembak, mati karena keracunan gas, dan mati karena waktu… itu semua memiliki penghormatan dengan cara yang sama, walau prosesnya berbeda.
” Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.”
“Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun”
-Soe Hok Gie-

