Dua hari sebelum adik angkatan saya dikampus meninggal, saya sempat menulis di status BBM saya : Berbahagialah mereka yang mati muda!
Saya menuliskan seperti itu, tepat setelah saya mencari tahu tentang tulisan-tulisan Soe Hok Gie. Saya memang sangat tertarik dengan kata-kata itu. Kalimat panjangnya diambil dari kata-kata Schopenhauer, dengan tulisan : Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial, adalah mati tua. Berbahagialah mereka yang mati muda karena tidak mendapat kesialan dan penyesalan di hari tua.
Ketika itu saya berpikir, apakah memang menyenangkan kalau kita mati muda yang baru memiliki sedikit dosa? Tapi, kemudian saya tersadar bahwa mati pun menjadi bermasalah tanpa memandang usia, ketika yang kita lakukan selama hidup, bukan hal terbaik yang bisa kita pertanggungjawabkan nantinya dihadapan Allah. Saya sejenak merasa agak bersalah dengan status BBM saya yang begitu, tapi toh tetap saya tulis dengan perasaan bangga dan tetap memikirkan tiap melihat BBM saya.
Berbeda cerita saat dua hari kemudian saya mendapat pesan singkat di hape yang berbunyi kabar duka. Kabar duka yang berasal dari teman-teman kampus saya dan adik angkatan saya sendiri yang pergi. Sontak saya langsung mengganti status BBM saya menjadi : RIP Uli 09 - Kematian, mengingatkanku banyak hal.
Hampir lupa, sebelumnya pernah menulis sesuatu yang berhubungan dengan itu. Saya merasa kurang pantas kemudian menuliskan hal itu lagi. Saya terus teringat adik saya itu sekelebat ketika masih hidup dan kini sudah pergi. Saya lantas tidak membiarkan bayangannya mengitari isi kepala saya dan khayalan saya. Hingga seorang teman bercerita tentang raut muka almarhum adik saya itu sebelum dimakamkan. Teman saya bercerita, “Aku sedih. Aku nggak ngelihat dia, seperti waktu mamaku meninggal. Aku sedih, karena aku ngelihatnya, dia sedih dia meninggal.”
Cukup!
Aku memang tidak terlalu dekat dengan Uli, adik angkatanku itu. Tapi, senyum riangnya dikala hidup menamparku sangat keras ketika aku lihat ada darah mengalir dari kepalanya. Tragis. Tuhan sangat bisa menidurkannya sekaligus menamparku sekeras itu.
Dari situ, saya mulai merenung. Mulai menyendiri lagi memikirkan banyak hal. Padahal, ketika kita hidup, akan lebih bermakna jika kita hanya sekadar merasakan tanpa memikirkan. Hari kemarin, sehari penuh, saya mendapat suatu pelajaran menyenangkan bagaimana cara memaknai hidup agar lebih berwarna. Memang benar, Kematian membuatku mengingat banyak hal. Mengingatkan tentang hidupku, hidup orang tua ku, hidup keluargaku, hidup teman-temanku, hingga hidup duniaku. Warna-warna yang kupelajari sekarang, sedang kukumpulkan untuk kemudian mewarnai kanvasku.
Tak perlu takut untuk hidup wahai kawan. tapi, Jangan berani pula pada kematian. Kita tidak boleh sombong ataupun berlebihan. Biasa saja. Tapi, kita harus berlari untuk meraih impian kita.. Harus berlari..!! :)
Selamat temanku yang pandai tersenyum, hadirmu didunia dirindukan… Semoga hadirmu disana, disambut dengan rasa rindu pula..

